
Kali ini saya akan berbagai cara untuk membuat sebuah widget yang menampilkan timeline dari twitter anda secara otomatis, dan dengan cara yang sederhana. Mungkin banyak orang yang belum tahu, tetapi twitter ternyata memiliki fasilitas otomatis untuk membuat sebuah widget sederhana dalam bentuk HTML secara otomatis. Widget dapat kita modifikasi tampilannya seperti warna dan jumlah twitter yang kita munculkan, dan widget tersebut dapat ditampilkan secara embed di HTML manapun yang mendukung javascript.
Caranya sangat mudah : cukup buka saja halaman http://twitter.com/about/resources/widgets/widget_profile dari browser favorit anda. Anda akan menjumpai halaman seperti ini :

Anda hanya perlu untuk memasukkan username twitter yang anda ingin buat widgetnya di kolom username, lalu mengatur jumlah tweet yang muncul di tab preferences, melakukan pengaturan warna warna link, teks, dan background di tab appearance, serta mengatur ukuran widget di tab dimensions (atau kalau tidak mau repot cukup masukkan username saja, dan biarkan yang lain pada nilai standarnya). Setelah beres anda bisa mengecek hasilnya dengan mengklik test settings, dan setelah puas anda cukup mengklik finish & grab code. Hasilnya kodenya contohnya seperti ini :

Cukup copy-paste kode di atas ke dalam sebuah halaman HTML, dan voila ! Jadilah twitter widget pribadi anda yang anda bisa letakkan di mana saja. (di blog, di aplikasi, atau bagian dari widget lainnya)

Kali ini saya ingin berbagi tentang sebuah aplikasi Mac yang cukup powerful untuk melakukan pembelajaran bahasa, yaitu Rosetta Stone. Aplikasi ini, yang mengambil nama dari sebuah batu yang dijadikan pedoman untuk mentranslasikan hieroglyph Mesir, adalah aplikasi yang memfokuskan diri pada menyediakan semacam kursus digital untuk mempelajari suatu bahasa. Dengan memanfaatkan metode yang dinamankan sebagai “immersion”, dimana aplikasi memanfaatkan gambar, interaktivitas, pendengaran, dan pengucapan untuk membuat seseorang mempelajari bahasa baru bagaikan dia mempelajari bahasa ibunya. Metode ini dikatakan mampu untuk meningkatkan kecepatan seseorang dalam mempelajari sebuah bahasa. Well, enough with the introductions, let’s get on with the app review !

Hal pertama yang menarik perhatian dari aplikasi ini adalah banyaknya pilihan bahasa yang disediakan. Jadi pengguna aplikasi hanya perlu mendownload aplikasinya sekali, lalu setelah itu menambahkan paket bahasa (yang disebut dengan “language packs”) ke dalam aplikasi untuk belajar bahasa tersebut. Dan bahasa yang disediakan sangat BANYAK. Dapat dilihat pada gambar di atas yang diambil dari web rosetta, aplikasi ini menyediakan banyak sekali bahasa, kurang lebih sekitar 33 bahasa. Nice ! (dan bahasa Indonesia juga termasuk di dalamnya ☺ )

Bahasa yang disediakan akan dibagi-bagi dalam beberapa paket level, biasanya dari 1-3. Setiap paket level akan terdiri dari sekitar 4 unit, dengan tiap unit akan terdiri dari beberapa materi inti yang selanjutnya dipecah lagi dalam berbagai sub-materi seperti pengejaan, struktur, vocab, membaca, mendengar, menulis, dan berbicara. Dari tiap materi sendiri akan ada reviewnya sendiri. Materi yang disediakan oleh aplikasi ini sangat bervariasi sehingga tidak membosankan dan cukup mudah dimengerti. Selain itu, ada fitur speaking, dimana kita harus berbicara dan menjawab pertanyaan dengan menyebutkan jawabannya langsung di mic yang nantinya akan ditangkap oleh speech recognition aplikasi. Fitur ini sangat powerful, dan saat saya coba cukup detil untuk mengerti kata-kata saya dalam mengucapkan bahasa Jepang yang lumayan rumit.

Kemampuan tambahan dari Rosetta Stone adalah kemampuan untuk kita memilih bagaimana jenis kursus bahasa yang kita mau. Apakah mau fokus di listening dan reading ? Ataukah mau focus di speaking saja ? Atau mau kursus lengkap yang mencakup semua materi ? Semuanya terserah kita, dan dapat dirubah sesuka hati dan kapan pun kita mau. Sangat membantu apabila kita ingin fokus untuk mempelajari aspek tertentu saja dari suatu bahasa.

Setelah belajar, tentunya kita ingin mendapatkan feedback dari apa yang sudah kita kerjakan. Rosetta Stone memberikannya dalam bentuk halaman overview, sudah sejauh mana kita telah belajar dari sekian banyak materi yang ada, materi mana saja yang kita bagus, serta waktu yang kita habiskan. Hal ini membuat kita mampu mengevaluasi diri, di bagian mana kita masih lemah dan perlu pemahaman lebih lanjut.
Overview :
Rosetta Stone aplikasi yang lengkap untuk belajar bahasa, ditunjang dengan banyaknya bahasa yang didukung serta pembawaan materi yang mudah dimengerti. Aplikasi ini mampu membuat penggunanya untuk belajar secara mandiri, serta dilengkapi dengan kemampuan pembentukan kurikulum dan pemberian feedback bagi pengguna. Sebuah aplikasi all-in-one yang sangat bagus untuk belajar bahasa
Komentar :
+ bahasa yang didukung sangat banyak
+ pembawaan materi yang lengkap, mudah dimengerti, dan tidak membosankan
+ pemilihan kurikulum belajar serta pemberian feedback yang cukup lengkap
+ speech recognition yang handal
- harga yang mahal (bisa sampai 100 USD lebih untuk satu bahasa)
- ukuran language pack yang cukup besar (sekitar 600MB lebih untuk 1 level bahasa)

Kali ini saya ingin berbagi informasi mengenai sebuah aplikasi yang mungkin ada di setiap komputer Mac, namun jarang digunakan oleh penggunanya yaitu iMovie. Aplikasi besutan Apple yang berguna untuk melakukan pengeditan dan pembuatan video sederhana ini dibundle dengan komputer Mac baru dalam bundelan iLife ’11, dan versi terbarunya sekarang adalah iMovie 9.0.4 (dapat diperbaharui otomatis melalui software update). Namun, entah kenapa aplikasi ini jarang digunakan (mungkin karena pengguna Mac lebih sering langsung memakai aplikasi yang lebih professional seperti Final Cut Pro ataupun Adobe Premiere), padahal aplikasi ini cukup lumayan kemampuan dan mudah penggunaannya dalam pembuatan video sederhana. Saya beberapa hari yang lalu berkesempatan untuk mebuat slideshow sederhana dengan aplikasi ini, dan inilah hasilnya ☺

Gambar di atas adalah interface dari aplikasi iMovie. Aplikasi ini layarnya dapat dibagi menjadi 4 bagian utama yaitu :
Project Library, bagian ini memuat semua project yang ada pada komputer Mac yang kita punyai, nantinya bagian ini akan berubah menjadi project viewer, yang akan menjadi tempat kita untuk mengedit video
Event Library, bagian ini memuat kumpulan klip klip video yang kita miliki. Didapatkan dengan cara mengimport dari kamera video langsung saat kita sambungkan kamera tersebut via kabel data ke komputer Mac, ataupun diimport dari program lain seperti Aperture
Audio + Photo + Effects Library, bagian ini untuk memasukkan suara, foto, teks, dan efek transisi pada video yang sedang kita buat.
Movie Preview Window, bagian ini untuk melihat bagaimana tampilan video yang sedang kita edit.
Karena pada post ini kita hanya akan membicarakan tentang bagaimana membuat slideshow foto sederhana, maka bagian yang akan banyak kita kunjungi adalah bagian project library (yang nantinya berubah jadi project viewer), audio + photo + effects library untuk memasukkan foto dan efek, serta movie viewer untuk mempreview video yang kita kerjakan.
Langkah pertama yang kita lakukan adalah membuat project baru, kita lakukan hal ini dengan mengklik kanan pada project library dan memilih new project. Akan tampil layar seperti ini :

Di layar tersebut akan tampak beberapa tema movie yang bisa digunakan, baik berbentuk yang unik seperti buku komik, scrapbook, warta berita, ataupun bentuk movie trailer. Untuk melihat seperti apa tema tema yang ada, cukup klik saja temanya dan maka sebuah preview movienya akan ditampilkan di bagian kanan layar. Untuk sekarang, pilih saja photo album, dengan nama project bebas (saya memberi nama film liburan), dan aspect ratio 4:3 (silahkan mau 16:9, tergantung akan ditampilkan di tv jenis apa), serta frame rate 30 FPS (fps standar untuk video NTSC). Selanjutnya klik create. Akan tampil layar berikutnya.

Pada layar, bagian project library akan berubah menjadi project viewer. Bagian inilah yang akan menjadi tempat kita melakukan pengeditan terhadap video yang dibuat. Langkah selanjutnya adalah memasukkan foto yang diinginkan ke dalam slideshow. Hal ini dapat dilakukan dengan mudah dengan mengklik tombol kamera yang ada di bagian tengah kanan layar. Foto-foto yang telah ada pada komputer mac dan telah dimasukkan dalam library iPhoto dan Aperture secara otomatis akan ditampilkan. Untuk memasukkan ke dalam video, cukup perlu drag-and-drop foto yang akan dipilih dari bagian kanan bawah tersebut ke layar project viewer di kiri atas. Foto yang dipilih akan langsung dimasukkan dalam video serta ditambahkan transisi dan efek yang sesuai dengan tema yang dipilih. Bagi yang tidak menggunakan iPhoto maupun Aperture, foto yang ingin ditambahkan ke video dapat dimasukkan dengan cara melakukan drag-and-drop dari finder ke dalam iMovie.

Foto yang dimasukkan dalam video akan disusun dalam sebuah lini masa. Bila ingin mengganti urutan foto, cukup pilih saja fotonya dan drag di urutan yang sesuai. Transisi dan efek yang ada akan diaplikasikan secara otomatis. Untuk melihat hasil video sementara, dapat dilihat di bagian kanan atas layar.

Untuk menambahkan teks atau judul pada video, klik tombol “T” di sebelah tombol kamera. Selanjutnya tinggal drag-and-drop pilihan teks yang ada ke tempat yang diinginkan di project viewer, dan secara otomatis teks akan ditambahkan. Cara yang sama dapat diterapkan untuk menambah transisi (gambar kotak di sebelah tombol “T”) serta menambah animasi (gambar bola dunia di paling ujung kanan).

Sebuah video tentunya belum lengkap apabila tidak ditambahkan musik. Musik dapat dimasukkan dengan mudah dengan memilih tombol berbentuk nada dan memlih dari sekian banyak musik yang telah dimasukkkan dalam library iTunes, GarageBand, ataupun efek suara yang dimiliki oelh iMovie. Drag-and-drop file musik langsung ke project viewer, dan musik langsung dtambahkan, dimana panjangnya dapat dilihat dari warna hijau yang melingkupi keseluruhan video.

Langkah terakhir setelah video tersebut selesai dibuat adalah melakukan export agar video dapat dilihat oleh orang lain. Dalam iMovie, cara melakukan export cukup mudah. Cukup pilih menu share di bagian atas, maka akan ditampilkan berbagai macam pilihan tempat iMovie bisa melakukan export video. Anda bisa menyimpan video anda langsung ke iTunes, membuatnya jadi iDVD, atau bahkan ke Youtube. Namun untuk saat ini saya akan menyimpan video di komputer saya saja, dan memilih untuk export movie.

Setelah memlih export movie, langkah selanjutnya adalah memilih ukuran video yang akan dibuat. Silahkan dipilih sesuai dengan format dan media tempat anda ingin memutar video yang diinginkan. Harap diperhatikan, tentunya ukuran video yang besar akan mengakibatkan ukuran file video yang besar juga (sebuah file HD bisa sampai ratusan mega sampai satuan giga).

Setelah memliih tinggal tekan export, tunggu sebentar, dan voila ! Video yang dibuat tadi sudah dibuat dalam bentuk yang bisa dimainkan dalam media player. Gambar di atas adalah screenshot dari video FilmLiburan yang saya export ukuran mobile/small dalam format m4v (format default iMovie saat export movie) dan dimainkan via VLC Player.
Ringkasan :
Untuk membuat slideshow sederhana menggunakan iMovie, dapat melakukan langkah-langkah berikut :
- buat project baru dengan iMovie, dengan tema yang sesuai
- pilih foto yang mau dimasukkan dari iPhoto ataupun langsung dari komputer dengan Finder.
- atur urutan serta masukkan efek teks, suara, transisi, dan animasi.
- export video yang sudah dibuat dan mainkan di media player favorit anda ☺
Komentar :
Menurut saya iMovie adalah program yang cukup powerful, dengan plus dan minusnya sendiri.
+ integrasi kuat dengan sistem mac, semua tinggal drag-and-drop serta interoperabilitas dengan library program mac lainnya tinggi (iPhoto, Aperture, iTunes)
+ sederhana dan simpel
- kurang powerful kalau mau melakukan pengeditan mendalam (edit transisi/efek), serta settingan video (frame rate, ukuran video, format video), sehingga pengguna yang ingin membuat video yang lebih wah tampak harus berpindah menggunakan final cut pro / premiere.
- cukup memakan resource. Saat saya menggunakan ini, beberapa kali mac saya tampak tidak responsif, padahal saya menggunakan mac generasi baru (MBP 2011, core i5, memory upgrade 8GB). Hal ini tampak berbeda dengan saingannya di windows, yaitu Windows Movie Maker. Saya bandingkan dengan WMM membuat video yang mirip dengan komputer spek Core2Duo, Memory 3GB, masih lebih ringan WMM.
Saat ini, saya sedang mendalami buku yang sangat menarik, yaitu Business Model Generation (lihat buku ini di amazon)
It’s a very interesting book. Really.
Buku ini membahas bagaiman caranya membuat sebuah model bisnis dengan menggunakan business model generation canvas. Caranya sangat sederhana, dan menurut saya ini adalah salah satu cara paling mudah untuk mengembangkan sebuah model bisnis secara konseptual dan umum. Saya sudah mencobanya beberapa kali, dan saya merasa saya bisa dengan mudah menangkap garis besar dari model bisnis yang saya rancang dengan menggunakan alat bantu ini.
Secara garis besar, inti dari buku ini adalah “canvas” yang bernama business model generation canvas. (dapat dilihat di wikipedia). Canvas ini membagi business model menjadi 9 buah komponen utama, yang kemudian dipisahkan lagi menjadi komponen kanan (sisi kreatif) dan kiri (sisi lojik). Persis seperti otak kita.
Ke 9 komponen yang ada tersebut adalah sebagai berikut, (diurut dari kanan ke kiri). Customer Segment, Customer Relationship, Customer Channel, Revenue Structure, Value Proposition, Key Activities, Key Resource, Cost Structure, dan Key Partners. Wew ! banyak betul bukan ? Jangan khawatir karena walau banyak cara menggunakan komponen-komponen ini sangatlah mudah.
Dalam membuat model bisnis menggunakan teknik ini, ada beberapa strategi yang bisa dipakai. Bisa mulai dari tengah dahulu, yaitu value proposition, bisa dari customer dulu, atau dari partner dulu. Karena saya orang yang lebih banyak menggunakan otak kanan dan lebih suka mulai dari kanan, mari kita bahas mulai dari bagian kanan terlebih dahulu
.
Komponen pertama yang akan dikerjakan adalah customer segment (CS). Di bagian ini, tentukan dulu customer apa yang akan menjadi target segment dari bisnis kita. Dari sana kita harus letakkan diri kita di sisi customer, lihat apa yang mereka lihat, dengar, pikirkan dan lakukan, keinginan dan tujuan, rasa takut, dan harapan dari mereka.
Setelah identifikasi customer segment kita lakukan, selanjutnya kita lompat sedikit ke bagian tengah, yaitu ke value proposition (VP). Berdasarkan customer yang telah diidentifikasi, tentunya kita sudah dapat mengira-ngira apa kebutuhan dari customer tersebut. Dari kebutuhan itu, selanutnya kita dapat mendefinisikan value apa yang akan kita berikan agar mampu memenuhi kebutuhan customer. Value yang kita berikan itu akan menjadi nilai inti dari kegiatan bisnis kita.
Setelah value yang kita beri kita definisikan, selanjutnya kita masuk ke bagian Customer Relationship (CR). Pada bagian ini kita lanjutkan dengan mendefinisikan hubungan yang ada antara customer dengan diri kita sebagai perusahaan. Hubungan dapat berupa macam-macam, mulai dari memberikan bantuan personal perorangan untuk tiap customer, dengan memanfaatkan komunitas, atau bahkan berupa ‘self-service’, yaitu tidak berhubungan langsung dengan customer.
Langkah berikutnya adalah mendefinisikan Channel (CH), yaitu bagaimana mencapai customer kita. Channel ini adalah jalur antara kita dengan customer, bagaimana delivery dari value yang kita berikan akan mampu mencapai customer dengan baik.
Setelah CS, VP, CR, dan CH didefinisikan, harus ditentukan pula bagian yang sangat penting dan sangat vital untuk keberlangsungan bisnis. Hal itu adalah Revenue Stream (R$), yaitu representasi dari jalur penerimaan uang yang kita akan terima dari setiap segmen customer. Definisikan tiap customer segment akan menghasilkan kita revenue melalui suatu cara tertentu
Dengan pendefinisian CS, VP, CR, CH, dan R$, maka selesailah bagian kanan dari business model canvas ini. Selanjutnya, saatnya masuk ke bagian kiri, yaitu bagian logic dari business model canvas, yey !
*untuk mencegah agar post ini tidak terlalu panjang, post ini akan saya pecah menjadi 2. Tunggu part 2 menyusul dalam beberapa hari kedepan
When I believe that you would never let me down
And I know that you’ve tried the best you can
Well everything’s will be allright when you’re with me now
You’re the best that I’ve ever had
Life’s gone and it seen up and down
We cried, we laugh, we love, we work it out
Well everything’s will be alright when we’re together
You said our love will last forever
You and I
We’re stars in the sky
You and I
We’re in love
We’ll fly so high,
we try to make a better living
You and I
We’re in love
–
I miss being in love.
Here I am, duduk santai di sebuah kafe di bandung, ditemani segelas teh hangat sambil melihat pemandangan langit sore yang memerah, dengan di backsound mengalun lagu endah n rhesa, dan menulis post berjudulkan “missed being in love”.
So sweet, yet so cliche.
Tidak terasa sampai saat ini sudah 2 tahun lebih menjalani status single. Not in a relationship. Salah satu masa single terlama sejak saya pacaran pertama.
Merasakan cinta memang tidak perlu dalam sebuah relationship. Tapi kalau menurut saya, saya baru dapat merasakan benar benar being in love, that bisa menjalaninya dengan menyenangkan dan sepenuh hati saat saya berada dalam sebuah relationship. dengan seseorang yang bisa saya sebut sebagai orang yang saya cintai. Dan dengan begitu saya bisa bebas mengepresikan perasaan cinta dan sayang saya terhadap orang tersebut.
Banyak memang yang terjadi dalam 2 tahun terakhir, walau tanpa sebuah relationship. Banyak cinta. Banyak sakit. Tapi belum sampai pada sebuah cinta dimana saya dapat mencintai dengan bebas dan setulus hati. Saat dimana saya bisa hanya memandang orang itu dengan tersenyum dan merasa sangat damai melakukannya.
Mungkin, ada bagian dari saya yang belum let go dan say next. Mungkin, ada bagian dalam dari saya yang belum menemukan orang lain untuk dicintai. Atau mungkin, hati saya yang sedang tidak bisa mencintai.
Ada ruang yang mampu diisi oleh cinta saat dia hadir. Dan saat cinta itu pergi maka ada sisi yang hilang. Sisi yang hilang itu terus ada, membesar, dan akhirnya menjadi ruang kosong yang besar dan membuat hidup ini menjadi tidak seimbang. Love is addicting, and it’s true. *sigh*
Missed the feeling. really.
Jam menunjukkan pukul 7 malam.
Daerah setiabudi.
Bagi orang Jakarta, untuk keluar jam segini adalah hal yang sangat-sangat memalaskan. Kenapa ? Hal ini tentu saja karena jalan di Jakarta sedang macet-macetnya pada saat ini. Really really macet.
Melihat keadaan jalan yang seperti ini, akhirnya saya dan rekan seperjalanan saya memutuskan untuk melipir sejenak, melepas lelah setelah beracara seharian penuh sekaligus menunggu macetnya reda. Berhubung sedang berada di sekitar Setiabudi, akhirnya pilihan jatuh kepada suatu restoran yang baru membuka cabang baru di setiabudi one, Anomali Coffee.
Tempat ini.. pewe.
Mengusung nama Anomali Coffee yang sudah cukup terkenal sebagai tempat nongkrong yang nyaman di jalan Senopati, cabang baru dari Anomali Coffee ini mampu menghadirkan suanana yang cukup nyaman. Feel’s like a home. Interior yang cukup kelas dengan suasana kayu, karung goni, bata, dan kaca jendela yang besar memberi kesan spacious pada cafe ini. Nice.
Bagian yang paling saya suka dari cafe ini adalah suatu spot di ujung kanan kafe, tempat sebuah meja dengan dua buah sofa panjang bersisikan dengan kaca jendela besar yang memberi kita padangan luas terhadap jalan rasuna said. Imagine yourself sitting there, sitting comfortably with your back lean on the sofa, enjoying a nice warm cup of cappucino while looking at Jakarta’s night view through the window. Completely perfect. Damai. (selain perasaan puas melihat kemacetan yang melanda orang-orang di luar sementara diri sendiri aman damai menyeruput secangkir kopi sambil duduk ongkang-ongkang kaki di sofa
)
It feels good. The coffee’s really fine here @ anomali, it tastes just fine though not that good enough to warrant me just to go there for the coffee. The menu’s has enough variety, the drink delivered beautifully, but the main reason someone want to go here is because the atmosphere. And i mean that kind of atmosphere that makes you want just to sit there comfortably for a couple of hours. Satu hal yang patut diperhatikan sih, kalau mau lama nongkrong di sini lebih baik pilih di bagian dalam karena tempat duduknya lebih nyaman serta ber-ac. Di luar ? panas beuts seperti suhu Jakarta sekarang (which is not my preferred temperature for being comfortable)
Overall, nice place, nice variety of coffee, great atmosphere, and there’s a really comfortable spot to spend your time waiting for the traffic to subside.
NB. saya ingin sekali menaruh foto pemandangan malam hari Jakarta dari spot saya tadi berada, namun sayangnya saya baru kepikiran untuk menaruhnya saat saya sudah pergi. Next time when i’ll go there, i’ll be sure to take a picture of it
Saya malam ini baru saja menonton sebuah film. Film berjudul "Tanda Tanya". Sebelumnya, saya mengetahui film ini baru satu hari yang lalu, dari seorang teman, yang kebetulan mengsms saya untuk mengajak nonton. Sayangnya, pada waktu itu saya tak bisa dan terpaksa menolak ajakannya. Akan tetapi, saya sempat bertanya tentang film apakah itu ? Jawabannya yang cukup sederhana, "Tentang agama, islam, cina, kristen, dan teman temannya".
Sederhana, namun cukup membuat saya tertarik.
Akhirnya, malam ini, secara spontan saya mengajak dua rekan saya dalam hal dunia perjalan-jalanan dan pergeje-an untuk berangkat menonton. To be honest, tepat setelah memberi tiket untuk menonton film ini, salah satu rekan saya berkata "film ini menarik sih, tentang perbedaan agama", dan hal itu cukup membuat saya terdiam beberapa saat dan berpikir tampak salah saya menonton film ini.
It’s going to bring back some memories. But that’s another story.
#warning – spoiler alert#
Secara keseluruhan, film ini bagaikan sebuah kolase. Sebuah kumpulan cerita dari berbagai sudut pandang, yang mampu dirangkai dengan baik menjadi sebuah gambar. Ada banyak kehidupan yang muncul, mulai dari kehidupan Menukku, seorang wanita muslim yang bekerja di sebuah restoran cina konghucu, Soleh, suami dari Menukku yang punya inferiority complex terhadap istrinya dan menjadi desperate untuk menunjukkan sesuatu kepada sang istri, Pasangan suami istri pemilik restoran cina tempat Menukku bekerja yang sangat bertoleransi tinggi dan selalu berbuat baik terhadap pemeluk agama lain, Hendra, anak dari pemilik restoran cina yang bimbang dan belum membuat pilihan hidupnya, Rika, seorang janda yang tegar akan jalan yang dia pilih, dan Surya, seorang aktor figuran yang terlalu memikirkan apa pandangan orang lain.
Semua kumpulan cerita ini pada akhirnya saling berinteraksi, saling berkonflik, dan akhirnya dapat diselesaikan dengan baik menjadi sebuah good ending. Tokoh-tokoh yang ada mampu menemukan jawaban yang dicarinya masing-masing dan cerita ditutup dengan mereka memulai hidup baru mereka dengan baik. Banyak perasaan yang muncul dalam cerita ini, mulai dari senang, sedih, drama, kekesalan, benci. Cukup berat, namun beberapa scene berisi kekonyolan cukup menghibur dan mampu membuat film ini enak ditonton. Soundtrack yang diisi oleh lagu lagu Sheila on 7 dan beberapa tembang jawa terasa pas sebagai peneman adegan-adegan pada film. A nice, packaged story.
#end of spoiler#
Enough about the movie. Film ini setelah menontonnya meninggalkan kalimat yang mampu untuk membuat penontonnya berpikir dan merasa. To be honest, some of those sentences is why I’m writing this right now. (beberapa kalimat sedikit diedit untuk mencegah spoiler)
"Mungkin, dulu diantara kita ada cerita yang tak enak. Namun, buat aku, itu adalah anugrah. Anugrah dari Tuhan untuk merasakan cinta dalam agama yang berbeda. Namun, aku minta kamu tidak melampiaskan kebencianmu pada suamiku dan kedua papi mamimu."
Ouch.
Kalimat ini hadir dalam satu titik yang mampu menjelaskan banyak hal yang telah terjadi. Dan membuat segalanya menjadi cukup jelas. Cerita tentang dua orang, yang terlihat bahagia dalam suatu foto, namun akhirnya satu menjadi yang ditinggalkan dan satu menjadi yang meninggalkan. Orang yang ditinggalkan tidak mengerti, dan akhirnya menimbulkan amarah dan kebencian yang akhirnya dilampiaskan pada orang lain.
It’s hurts, but we need to forgive and let someone go from our lives. And let that story become a gift that teach us a lesson.
"Papi, anak kita sudah membuat perubahan besar, seperti pesan papi. Dia telah memilih"
Ouch again.
Memilih. Suatu kata yang membuat seseorang seperti apa dalam menjalani hidupnya kelak. Suatu pilihan yang memaksa seseorang untuk keluar dari zona nyaman dan menuju sesuatu yang tak pasti serta mau tak mau mengambil segala resiko hasil yang ada. The whole package.
It needs a great-great-great courage to choose.
And we need to choose, if we want our lives to turn and go forward.
"Dengarkan hatimu"
Triple ouch.
Sederhana. Mengena.
Mengingatkan saat saat banyak-banyak-banyak kejadian dalam hidup sendiri dimana kita tidak mendengarkan suara hati kita dan lebih mendengarkan apa yang orang lain pikirkan tentang kita. And again it needs a great-great-great-great-great courage to hear, admit, and stay to true to what our heart really feels.
"Cinta itu tidak melekat. Cinta itu tidak mengikat. Cinta itu tidak memilih"
Just a smile
Ini adalah sebuah kalimat yang menurut saya sangat-sangat bagus dalam hal perbedaan agama. Saya tidak akan masuk dalam hal agama a, agama b, agama c, karena itu adalah hak tiap orang, namun yang saya yakini adalah bahwa kita hidup di dunia ini untuk saling mengasihi dan berbuat baik.
Saya ingin menutup postingan saya kali ini dengan kalimat dari sebuah film lain sangat mengispirasi saya sampai sekarang :
"Holiness is in right action and courage to defend those who can’t defend themselves. Goodness, what God desires – is in here (point to the head) and here (point to the heart). And by what you decide to do everyday, you will be a good man or not."
It is as simple as that.
We are all of us what we do.
Saatnya memilih.